note:
cerita, tokoh, nama karakter di sini adalah fiktif apabila terjadi kesamaan itu merupakan hal yg tidak disengaja, walaupun ada beberapa kenyataan di cerita ini.
Chapter 1
Bangku itu telah kosong
Sia-sia Sendy terus menerus ke ambang pintu. Seseorang yang dinantinya takkan pernah datang. Sia-sia ia berusaha menipu diri dengan menganggap realita itu adalah bagian dari mimpi. Namun disaat ia terjaga, saat mata telah terbuka, mimpi itu tidak pernah berakhir.
Di bangkunya, Sendy duduk termenung seperti orang yang tak sadarkan diri. Terjatuh dalam mimpi yang takkan berakhir itu. Mulai hari ini ia akan duduk sendiri. Sosok lembut serta ceria itu telah pergi, takkan pernah bisa ditemukkan walaupun betapa keras Sendy mencari.
Tinggal dalam kenangan, Hanya dalam ingatan.
Semua tawa dan pertengkaran. Semua lelucon dan keisengan konyol. Semua rahasia dan cerita. Semua dukungan dan pengertian. Semua kerinduan dan cinta. Sampai kesediahan ini hilang. Sampai kekosongan ini berangsur-angsur tersembuhkan.
Sendy mengatupkan kedua rahangnya kuat-kuat. Berusaha keras agar sakit dan sesak didadanya tidak meledak keluar.
“Gue duduk sini ya, Sen?” Andi tiba-tiba saja sudah berada disamping meja. Sendy mendongkak kaget. “Gue duduk sini ya?” Andi mengulangi permintaanya. Seketika Sendy menolak.
“Nggak. Jangan! Biarin aja ni bangku kosong!”
Sesaat Andi menatap Sendy, kemudian kembali ke bangkunya sendiri tanpa bicara apa-apa lagi. Ia tidak berusaha memaksa. Begitu juga teman-teman sekelas yang lain. Mereka biarkan Sendy tenggelam dalam kesedihannya. Karena, meskipun rasa itu juga dialami oleh seluru kelas, Sendy merasakannya lebih pekat dan dalam. Karena seseorang itu telah lama bersama-sama semenjak mereka kecil hingga sekarang. Seseorang itu telah menjadi roh bagi Sendy, bilamana tanpa dirinya raga ini tak akan bisa hidup.
Menjelang bel pelajaran pertama berbunyi. Sendy justru meninggalkan kelas. Tidak satu pun teman-temanya menghalangi. Tetapi sebelum ia pergi ia sempat berpesan. “Gue minta jangan ada yang duduk di bangku itu!” ucapnya dingin. Dengan wajah kaku dan kedua rahangnya mengeras, ia melangkah keluar kelas, menuju sisa-sisa bangunan lama yang masih berdiri. Sendy kemudian memasuki salah satu ruangan.
Dipandanginya ruangan yang dulu pernah menjadi ruang kelas itu. Kini ruangan ini kosong, berdebu, lenggang dan ditinggalkan. Tetapi dulu ruangan ini pasti penuh siswa yang kini sudah bergelar alumni dan entah tersebar di mana saja.
Pasti banyak sekali kenangan di ruangan ini. Milik para alumnus itu. Berapa banyak dari mereka yang pernah tertangkap menyontek di ruangan ini? Berapa dari mereka yang pernah kena marah guru? Berapa dari mereka yang pernah naksir teman sekelasnya sendiri? Seberapa konyol keisengan-keisengan yang pernah mereka lakukan? Seberapa riuh dan ingar-bingar keributan yang pernah mereka ciptakan?
Dan kenangan yang pernah ditinggalkan oleh seseorang didalam hati Sendy yang akan selalu terpatri hingga saat ini atau bahkan nanti saat raga telah berpisah dari sukma.
Ada sebentuk senyum muncul di mata sedih Sendy yang menerawang. Namun kenangan-kenangan itu kemudian membuatnya tidak sanggup lagi menahan kepedihan. Karena tak mungkin berteriak, akhirnya Sendy melepaskan rasa sesaknya dengan meninju dinding, kemudian menendang keras-keras meja-kursi rusak yang ditumpuk di salah satu sisi ruangan.
Tendangan itu menyebabkan kursi yang berada pada tumpukan paling atas jatuh berdebam. Salah satu kakai kursi yang rusak seketika patah. Sendy meraih kursi itu dan mematahkan kakinya yang lain. Dibantingnya patahan-patahan kaki kursi itu kuat-kuat dilantai.
Cowok itu mengamuk di luar kesadaran, dan baru berhenti setelah benar-benar lelah dan kedua kaki-tangannya sakit. Tubuhnya kemudian meluruh lunglai. Jatuh tertutuk di lantai. Sama sekali tidak mempedulikan dengan tebalnya debu dan kotoran.
Ke mana perginya orang-orang yang sudah meninggal? Mengapa harus dia yang pergi? Bukankah masih banyak yang lain? desisnya perih.
Tanya tanpa jawab. Atau bisa jadi justru banyak jawaban. Hingga akhirnya percuma saja ditanyakan. Karena akan membingungkan hingga akhirnya berujung dengan lagi-lagi tanpa jawaban.
Kepala Sendy tertunduk dalam. Susah payah ia menelan ludah. Tangis yang mati-matian ditahan membuat tenggorokkannya sakit. Dengan letih ia menyandarkan tubuh dan kepalanya ke dinding. Perlahan kedua matanya terpejam.
Dalam kegelapan, ia paksakan hatinya untuk berhenti bertanya kemana perginya orang-orang yang sudah meninggal. Namun gagal, karena sederet pertanyaan baru kemudian justru bermunculan.
Tidakkah mereka, orang-orang yang sudah “pergi” itu, juga meraskan kepedihan yang sama? Apakah mereka juga tetap mengingat dan menyimpan semua kenangan? Senyuman terakhir orang-orang yang mereka tinggalkan. Pelukan terakhir. Tawa terakhir. Percakapan, pertengkaran, kemarahan, kesedihan. Canda dan tangis.
Apakah mereka juga berusaha menembus bagian-bagian yang terputus itu? Berusaha menggapai kembali orang-orang yang mereka cintai. Berusaha berbicara. Sama seperti orang yang masih hidup, yang mereka tinggalkan, berusaha terus “mencari” dan “menghidupkan kembali” mereka yang telah pergi. Dengan segala cara.
Ke mana perginya jiwa-jiwa yang lepas dari badan?
Satu Tanya tanpa jawaban.
***
