logo
  • Entries
  • Comment
  • Popular
Recent Posts
  • Nanti…
  • Cinta dalam diam
  • Aku masih Berpuisi
  • Renungan
Recent Comments
  • jony in Kenapa demi CINTA harus mati?
  • fath in Antara aku, kamu dan dirinya
  • neta in Antara aku, kamu dan dirinya
  • levi elhusni in kisah cinta - Windows mode
Popular Articles
  • Antara aku, kamu dan dirinya (6)
  • Untitle (3)
  • kisah cinta - Windows mode (3)
  • 11 January (1)
  • Home
  • About
  • Gallery

Cinta dalam diam

icon1 Posted by eskasetya in Curhat on 02 28th, 2010 | no responses

Seperti biasa. Aku menungguimu di batas senja. Saat kakimu mulai letih dan pundakmu kian rapuh. Kau kembali menemuiku. Memelukku dalam bisu.

Lalu aku menatapmu. Lekat sekali. Menembus tiap batas asa di balik retinamu. Ada banyak resah juga takut dan tangis yang mungkin sudah sedari tadi siang kau tahan.
Aku tak mau dunia menertawakan ketidakberdayaanku, begitu katamu. Selalu. Aku mengerti, sangat mengerti. Dan aku akan selalu menunggumu.

Dulu kita sering menjelajah malam untuk sekedar menatap bintang atau terkadang mengusik kelam dengan tawa. Seringkali pula kamu berkomentar mengenai hal-hal sederhana dan mengolahnya menjadi begitu rumit. Bila aku protes maka kamu akan tertawa dan mengatakan bahwa aku masih terlalu hijau untuk mengerti. Saat itu pasti aku akan merengut. Manja. Lalu kamu akan memetik bintang agar aku kembali tersenyum.

Tapi itu dulu. Dulu sebelum kamu mengenal mentari. Sebelum kamu pun mulai menyadari pesonanya. Kita masih sering bercengkerama.

Saat ini kamu cuma sibuk mengagumi senyumnya dan lupa dengan sunyi yang senantiasa menemanimu, yang memang tak lebih menarik dari mentarimu itu. Tapi aku masih di sini, tak pernah beranjak sedikitpun. Selalu menungguimu. Aku masih setia menungguimu walau dengan sepenggal ketidakpastian.

Aku ingat. Pagi-pagi sekali kau telah terjaga, lalu bergegas menyapa mentarimu dan kembali saat dia benar-benar menghilang dalam kegelapan. Aku tak ingin melewatkan saat-saat senyumnya merekah, ujarmu. Gembira. Tak peduli sama sekali akan rindu yang membucah di mataku.

Tiap kata yang meluncur dari bibirmu cuma tentang dia. Tentang mentari yang senantiasa tersenyum padamu, walau terkadang teriknya menyengat kulitmu. Tentang mentari dan sejuta pesonanya. Bahkan tak ada lagi cerita-cerita tentang keperkasaanmu saat menantang dunia seperti sebelumnya. Semua tentang dia. Cuma tentang dia. Kalau boleh jujur, aku muak dengan semua itu. Tapi aku juga tak pernah berniat merampas senyum itu dari wajahmu. Lagi-lagi aku cuma bisa membisu.

Dan aku masih tetap di sini. Setia menungguimu. Seperti malam ini,

“Aku lelah, Sen,” keluhmu. Pelan. Hampir tak bersuara. Samar-samar aku menangkap bulir-bulir air mata yang menggenang. Bibirmu bergetar.

“Aku lelah. Semakin aku dekat dengannya, semakin aku tak mengenalnya. Dia terasa kian jauh,” keluhmu. Lagi. Kabut kian pekat menggantung di biji matamu.

Jangan menemuinya lagi. Jangan! Pintaku. Tapi kau tak mendengarnya karena memang tak pernah bisa terucapkan olehku. Aku cuma diam. Turut menguyah pilumu juga piluku yang berbaur dengan rindu. Kau merindukan mentarimu, sedang aku merindukan senyummu. Ah, betapa tidak adilnya dunia ini.

“ Apa aku tak berarti baginya? Aku tahu dia itu mentari yang harus berbagi hangat dengan setiap makhluk, tapi…”

Kau tergagap. Cuma air mata yang berbicara.Ah, sungguh aku tak tahan melihat sendu itu. Aku meraih pundakmu dan mengelusnya. Lembut. Kau menoleh sejenak. Lalu kembali terbanting dalam resahmu.

“ Aku sangat mencintainya, Sen. Sangat. Bahkan bila kabut merampas binarnya dariku. Aku akan tetap mencintainya.”

“ Lalu, mengapa tak kau kejar cinta itu?”

Aku terkejut. Entah dari mana kata-kata itu berasal. Kau menatapku. Bingung. Sama bingungnya denganku. Ah, aku tak boleh berkata apa-apa lagi. Tak boleh!!

“ Maksudmu?”

“ Mengapa kau masih berdiam saja dan menangisi cintamu. Ayo…kejar cintamu itu.” Sedikit pun tak ada keraguan dalam kalimatku itu. Aku benar-benar tak percaya. Semua meluncur seperti air.

“ Selama esok masih ada, maka kau masih punya kesempatan karena mentarimu akan selalu hadir.” Tuhan, tolong hentikan kata-kataku ini, batinku. Aku meraba hatiku. Ada luka di sana. Perih.

“ Walau terkadang cerah tak selalu ada, tapi yakin saja mentarimu akan tetap ada. Kau cuma harus berusaha sedikit lagi.”

Kau mengangguk.

Dan ajaib sekali, mendung itu segera lenyap dari wajahmu.
“ Kamu benar, Sen,” ucapmu. Bersemangat. “ Terima kasih, Sen. Kamu memang sahabat terbaikku.”

Aku balas tersenyum padamu.

Kau merebahkan diri, lalu menatap langit-langit kamar seolah-olah mentarimu ada di sana.

Dan aku kembali sebagai sepi. Mencintaimu dalam heningku. Aku benar-benar tak mengerti. Aku tahu kalau kau sangat mencintainya, dan aku dengan bodohnya masih saja menungguimu dalam diamku.

Dan Aku akan tetap di sini, menantimu dalam kebisuan, entah sampai kapan. Aku juga tak tahu. Karena aku cuma sepi yang mencintaimu dalam diam.

B&A

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Categories

  • Curhat
  • Daily Note
  • Novel
  • Puisi
  • Resensi
    • Resensi-Movie
  • Surat Cinta

Archives

  • March 2010
  • February 2010
  • January 2010
  • August 2009
  • April 2009
  • March 2009
  • February 2009


© Copyright Just talking about love and love again 2008. All rights reserved. | Powered by Wordpress